Gudang Penuh Belum Tentu Swasembada Beras, Perlu Transparansi Data Produksi dan Impor

banner 120x600
banner 468x60
Bagikan Info

 

Jakarta, LintasHukRimIndonesia.Com — Sabtu 25 April 2026 Pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang mengaitkan melimpahnya stok beras di gudang dengan keberhasilan swasembada beras menuai sorotan. Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori, menilai bahwa indikator tersebut belum cukup untuk menyimpulkan tercapainya kemandirian pangan nasional.

banner 325x300

 

Menurut Defiyan, swasembada beras harus dimaknai sebagai kemampuan produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional secara berkelanjutan tanpa ketergantungan pada impor. “Gudang yang penuh tidak otomatis mencerminkan swasembada. Stok tersebut perlu ditelusuri asal-usulnya, apakah murni dari produksi domestik atau hasil akumulasi impor beberapa tahun terakhir,” ujarnya.

 

Ia menegaskan, peran Perum Bulog sebagai pengelola cadangan beras pemerintah memang krusial dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga. Namun demikian, keberadaan stok yang besar lebih mencerminkan fungsi buffer stock, bukan indikator tunggal keberhasilan produksi nasional.

Baca Juga  Dedikasi Tanpa Batas: Jusman, Sosok ASN KUA di Balik Berdirinya Masjid Al-Hikmah Lapandewa

 

Defiyan juga menyoroti perbandingan capaian saat ini dengan era Soeharto. Menurutnya, keberhasilan swasembada beras pada masa tersebut dicapai melalui proses panjang dengan dukungan kebijakan pertanian yang konsisten, mulai dari pembangunan infrastruktur irigasi hingga subsidi bagi petani. “Perbandingan harus dilakukan secara setara, baik dari sisi jumlah penduduk, waktu pencapaian, maupun kondisi ekonomi,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, ia mendorong pemerintah untuk membuka data secara komprehensif kepada publik, termasuk angka produksi beras domestik, kebutuhan konsumsi nasional, serta volume impor dalam beberapa tahun terakhir. Transparansi tersebut dinilai penting agar klaim swasembada dapat diuji secara objektif.

 

“Ketahanan pangan tidak cukup dibangun melalui narasi, tetapi harus didukung oleh data yang akurat dan kebijakan yang berkelanjutan,” tambahnya.

Baca Juga  Polda Sulut Bongkar Jaringan TPPO Internasional dan Domestik,Admin Judi Online Kamboja Hingga LC Manokwari

 

Dengan demikian, Defiyan mengingatkan agar pemerintah tidak menyederhanakan indikator swasembada hanya berdasarkan kondisi stok di gudang. Fokus kebijakan, menurutnya, perlu diarahkan pada peningkatan produktivitas pertanian, kesejahteraan petani, dan penguatan sistem pangan nasional secara menyeluruh.

 

Selesai

 

Sumber: Humas MIO Indonesia DKI Jakarta

 

 

 

Reporter: Rahmat Hidayat

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *