143 Rumah Rusak, Bantuan Terbatas: Kisah Warga Sridadi Brebes Bertahan di Tengah Ancaman Longsor

banner 120x600
banner 468x60
Bagikan Info

 

 

banner 325x300

BREBES, Lintashukrimindonesia.com — Tanah di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, terus bergerak perlahan. Retakan demi retakan di lantai rumah menjadi saksi kegelisahan ratusan warga yang kini hidup di antara harapan dan ketidakpastian.

Di tengah ancaman rumah ambruk, mereka memilih bertahan, bukan karena kuat, tetapi karena belum ada tempat yang benar-benar aman untuk dituju.

Sejak bencana tanah bergerak terjadi pada 29 Januari 2026, kehidupan warga berubah drastis. Dinding rumah mulai miring, lantai amblas, dan hujan menjadi momok baru.

 

Namun, di balik kondisi itu, semangat gotong royong justru semakin terasa. Kaum laki-laki memperkuat tiang dan pagar rumah seadanya, sementara para perempuan mengangkut tanah dengan digendong untuk menimbun lantai yang pecah agar air tidak masuk saat hujan turun.

Baca Juga  HAB ke-80 Kemenag Sulut, Perkuat Kerukunan dan Apresiasi Pengabdian ASN

 

Kasmi (60), salah satu warga terdampak, memilih tetap tinggal di rumahnya yang rusak. Ia mengaku pernah mencoba tinggal di tenda pengungsian, namun kondisi yang tidak layak dan minim sanitasi membuatnya kembali pulang.

“Kami tidak mengungsi karena tenda tidak layak, tidak ada fasilitas yang cukup,” ujarnya lirih.

Ia juga mengaku hingga kini belum merasakan bantuan bahan makanan. Meski demikian, ia bersama warga lain berusaha bertahan dengan apa yang mereka miliki.

Data terakhir menunjukkan bencana ini berdampak pada 174 kepala keluarga atau sekitar 527 jiwa. Sebanyak 143 rumah di Dukuh Bojongsari dan Makam mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam. Sebagian rumah bahkan telah ditinggalkan karena kondisinya terlalu berbahaya.

Baca Juga  Pimpin Apel Perdana 2026, Bupati Michael Thungari Beri Warning Terkait Laporan Keuangan

 

Kasmi (60), salah satu warga terdampak, memilih tetap tinggal di rumahnya yang rusak. Ia mengaku pernah mencoba tinggal di tenda pengungsian, namun kondisi yang tidak layak dan minim sanitasi membuatnya kembali pulang.

“Kami tidak mengungsi karena tenda tidak layak, tidak ada fasilitas yang cukup,” ujarnya lirih.

Ia juga mengaku hingga kini belum merasakan bantuan bahan makanan. Meski demikian, ia bersama warga lain berusaha bertahan dengan apa yang mereka miliki.

Data terakhir menunjukkan bencana ini berdampak pada 174 kepala keluarga atau sekitar 527 jiwa. Sebanyak 143 rumah di Dukuh Bojongsari dan Makam mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam. Sebagian rumah bahkan telah ditinggalkan karena kondisinya terlalu berbahaya.

 

Baca Juga  Kajati Sulut Lantik Fahri sebagai Asisten Pembinaan, Perkuat Tata Kelola Internal Kejaksaan

Bantuan tersebut sementara ditampung hingga dirasa cukup untuk dibagikan merata kepada warga terdampak.

“Bantuan masih sangat sedikit, jadi sementara kami tampung dulu,” katanya, Rabu (11/2/2026).

PEWARTA (REZA)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *